Cerbung, “Cinta Dalam Sunyi”

Cinta Dalam Sunyi…

Penulis : Komala Atik

Bagian Ke 2

Raya menatap daun pintu dengan perasaan gugup dan dada berdebar.

Berulang kali perempuan bertubuh semampai itu menarik nafas panjang seakan ingin membuang beban
di dadanya

Malam ini Zar berjanji menemui Raya di rumahnya. Duh..jantung Raya serasa hendak lepas dari gagangnya.

Berulang kali dia istigfar untuk menenangkan diri tapi tetap saja tak bisa menyembunyikan gugupnya. Raya tak memungkiri kalau Zar tak pernah benar benar hilang dari hatinya.

Pertemuan tiba tiba dengan Zar dua hari lalu benar benar membuat Raya gelisah
.Entah mengapa..Raya tak ingin mengatakan kalau ini adalah cinta…

Ketukan halus di daun pintu membuat Raya tambah gugup.. Zar berdiri dengan tubuh tegap dan gagah persis di depan Raya saat daun pintu terkuak.

Sejengkal lagi kepalanya menyentuh bingkai pintu. Kaos hitam ketat membungkus tubuh atletis Zar.

Masih seperti tujuh tahun yang lalu.Hanya lebih matang dan dewasa di mata Raya.
Garis pipi yang menonjol khas anak Batak dengan sorot mata teduh benar benar membuat Raya
melayang.

“Ay…” Sapa Zar pelan.
Duh..Raya makin rontok.Ay adalah panggilan sayang Zar buat dia.
Dan saat ini..saat semua orang memanggilnya bunda..ibu..mbak dan kak..Zar memanggil dengan
panggilan tujuh tahun lalu..Ay.

“Boleh masuk” sambung Zar.
“Eh ..ya.”Raya tak bisa menutup wajah gugupnya.

“Maaf Zar.kita bicara di luar saja.
Ada bangku di bawah pohon situ.Gak enak kalau di rumah soalnya anak anak lagi di tempat neneknya.”ujar Raya.

Zar hanya mengangkat bahu menurut pada keinginan Raya. Mereka melangkah ke sebuah bangku panjang di bawah pohon jambu. Duduk dengan perasaan rindu yang berbaur dengan rasa kaku dan segan.

Tujuh tahun lalu merajuk mimpi bersama,membangun angan dengan segenap cinta lalu tiba tiba
terpisah oleh takdir yang mereka tak mengerti sama sekali.

Malam itu duduk berdua dengan suasana yang sangat berbeda..mereka sudah sama sama menikah dan sama sama sudah memiliki buah hati.

“Apa kabar mu ay..? Zar mencoba mencairkan kesunyian.Raya menarik nafas berat. Cahaya lampu yang sedikit terhalang dedaunan menyelamatkan Raya yang tengah menyembunyikan
airmata.

“Seperti yang kamu lihat Zar”jawabnya pelan.

“Maaf Ay..kalau boleh saya tahu…..”Zar sengaja menggantung kata katanya takut Raya tersinggung. Raya mengangguk..
“Gak pa pa Zar..kamu mau tanya tentang suami saya kan?”tebak Raya.

Gantian Zar mengangguk dengan tatap sangat bersimpati berharap Raya tak berkecil hati dengan pertanyaannya..
Detik detik berikutnya..yang terdengar hanya suara serak Raya menuturkan kisah rumah tangganya yang harus berakhir di tengah jalan.

Raya mencoba bertahan demi anak anak..hidup dalam kekurangan dan tekanan suami yang tempramental..Raya tegar..harus bekerja keras menghidupi keluarga adalah hal biasa bagi Raya.

Namun akhirnya kesabaran Raya berakhir saat suaminya meninggalkan Raya dan anak anak tanpa kabar. Hampir delapan bulan kepergiannya Raya memutuskan membawa pernikahannya ke meja hakim.
Air mata mengalir di pipi Raya yang polos tanpa polesan selain lips tipis.Raya mengusap air mata dengan ujung jilbab panjangnya.

“Begitulah Zar..” tutup Raya.Zar menyandarkan punggung di sandaran kursi sambil menarik nafas berat.

“Aku gak menyangka kamu menjalani hidup sepahit itu Ay..”.

“Apa boleh buat Zar. Mungkin sudah begitu suratannya.Kita tinggal menjalani saja.”
“Oya..kenapa kamu keluar dari sekolah dan bekerja di area itu?kerja seperti itu berat lho Ay..apalagi untuk perempuan seperti kamu yang gak terlatih.”suara Zar jelas menyimpan kecemasan.

Raya bisa menangkap kecemasan Zar.. karena Zar adalah laki laki penyayang penuh tanggung jawab. Andaikan yang jadi suaminya adalah Zar..mungkin hidupnya takkan begini.. Uph..Raya menepis angannya.

“Sejak kepergian papanya..anak anak trauma jika jauh dari saya. Kemanapun saya pergi anak anak minta ikut.

Dan ini yang membuat saya gak bisa melanjutkan kegiatan sekolah. Saya keluar dan fokus mengurus anak anak di rumah..
Kami hidup dari sisa tabungan yang ada.
Seirit iritnya kami lama lama uang kami habis Zar. Saya harus keluar rumah kerja apa saja asal halal yang penting anak anak bisa makan.Saya kerja serabutan Zar “Raya merasa dadanya sesak menahan tangis.

Pergulatan hidup yang keras dan cobaan yang bertubi tubi harus di tanggung sendiri oleh Raya..ya sendirian.

Bahkan keluarga besarnya pun tak tahu kondisi Raya yang sesungguhnya. Raya memilih menyimpan lukanya sendiri, berharap kekuatan dari yang Maha Mengatur.

“Ay…”Zar meraih jemari Raya lalu menggenggam kuat seakan memberikan kekuatan. Raya tersentak.Segera dia menarik tangannya dari genggaman Zar.
“Jangan Zar..”Raya menggeleng..”kita tak boleh begini”

Zar mengerti. “Maaf Ay..”

Raya adalah gadis yang punya pendidikan agama yang baik, sangat bagus menjaga pergaulan.. bicaranya hangat dan sopan namun kalau becanda bisa bikin Zar tertawa sepanjang hari

Satu lagi Raya adalah teman diskusi yang asyik buat Zar. Raya cerdas. Tapi malam ini wanita hebat itu nampak terkulai letih..

“Apa yang kamu alami benar benar tak pernah ku bayangkan Ay”..suara Zar kembali mengalir dalam hening.

“Sejak pindah dari sini..Aku gak pernah dengar tentang kamu lagi.Aku putus asa mengharap kamu Ay.. Dalam kebimbangan itu ayah memintaku untuk menikah. Awalnya aku menolak karena aku hanya ingin nikah dengan kamu Ay..” suara Zar meninggi menahan emosi.

“Tapi kemudian aku sadar.. Kita tak mungkin menikah, karena orang tua mu tak membolehkan kamu jauh dari mereka, sedangkan aku harus bertahan dengan pekerjaan ku di Medan.

Akhirnya aku pasrah dengan pilihan ayah. Meri kemudian mengisi hari hariku memberiku anak anak yang lucu, meski sampai sekarang aku tak tahu apakah aku
mencintai Meri atau tidak..”Zar menunduk.

“Saat pertama melihatmu di area, hatiku hancur Ay..aku pingin memelukmu.. tapi gak mungkin ku lakukan..aku masih mencintaimu Ayya…”suara Zar terbata bata.

“Jangan ucapkan itu Zar,ceritanya sudah berbeda.”sahut Raya.

“Aku ingin menikah dengan kamu Ay..”Kali ini suara Zar penuh tekanan sambil kedua tangannya memegang bahu Raya.

“Kamu tau kan Ay, aku ingin hidup dengan kamu.. seperti cita cita kita dulu..aku ingin kita hidup seperti apa yg kita impikan dulu Ayya..”Zar mengguncang bahu Raya.

“Sadar Zar..ingat anak dan isterimu, jangan sampai keluarga mu berantakan hanya karena perasaan yang tak penting ini”Raya menepis pelan tangan Zar.

“Kamu anggap perasaan kita tak penting?”Zar setengah berteriak.

“Ya.” Suara Raya pelan tapi tegas.
“Bagi orang yang sudah menikah mimpi mereka adalah impian keluarga..mimpi bersama mestipun kadang tak sama dengan impian sendiri..Harga diri adalah harga diri keluarga…perasaan kita adalah
perasaan keluarga..”

“Jika salah satu masih mengejar perasaan sendiri saat sudah menikah maka yang akan di dapat hanyalah kehancuran keluarga seperti yang saya alami.”

Zar terperangah mendengar ucapan Raya.
“Kamu gak tau betapa aku sangat menyayangimu Ayya..teramat sangat..”
Raya berpaling mengalihkan pandangannya dari wajah Zar, tak sanggup menatap wajah yang pernah hadir dalam mimpi mimpinya..wajah lelaki yang pernah di panggilnya “kekasih”.

‘Andai kamu tau Zar..aku tak pernah benar benar bisa melupakan mu.namun harus ku tutup rapat rapat agar tak menjadi dosa dalam pernikahan ku’ bisik hati Raya.

“Zar.jangan pernah ragukan cintamu pada Meri..mesti tak kamu ucapkan, tapi pembuktian yang kamu lakukan adalah aktualisasi cinta yang sesungguhnya..itu yang lebih penting dari pada bibir mengucap

Cinta bahkan di saksikan oleh penghulu dan orang banyak namun aktualisasinya keliru.” Suara Raya pelan namun jelas di telinga Zar.

“Apa maksud mu ay..?”

“Ya..seperti suami saya..dia menikahi saya dengan cinta yang di agungkan di bibirnya.. cintanya di proklamirkan di depan banyak orang..namun ternyata gak cukup untuk menutup matanya dari perempuan lain..berkali kali saya di khianati Zar”

Senyum Raya dingin dalam remang cahaya lampu.

Bersambung..