Sejumlah Group WhatsApp Guru Dan Orang Tua , Ramai Bahas “Sekolah Harus Dibuka Kembali”

 

ORETAN86.COM- Pekan Baru, Hiruk-pikuk dunia pendidikan di provinsi Riau tak terlepas dari peran serta kerja sama pemerintah daerah,pihak sekolah (guru) dengan orang tua,

Hal ini ramai di perbincangkan dibeberapa group WhatsApp, mulai dari cara belajar online,yakni sebagaian besar anak tidak bisa mengikuti proses belajar karena tidak memiliki HP Android,dan terlebih parah kurangnya kesempatan orang tuanya mengontrol gerak gerik sangnanak itu sendiri,

Tentunya ini harus kita pikirkan bersama sebelum nasi menjadi bubur, ujar pimpinan pondok pesantren Al uswah Pekan Baru Riau H Ramli Abdul Hamid Lubis,

Berikut kutipan yang dirangkum awak media ini dalam salah satu group,

“Pak, Bu.. Covid-19 masih parah. Bahaya kalau sekolah dibuka. Siapa yang berani menjamin anak-anak tidak ketularan Corona di sekolah? Ada satu saja anak atau guru kena Corona, sekolah bisa ditutup. Bisa ambyar semuanya”

Ada benarnya, tapi kurang kuat argumennya. Begini ya. Coba simak 5 alasan sekolah harus dibuka, yaitu :

Satu…
Sekolah lebih terjaga. Dengan penerapan protokol kesehatan, perilaku anak-anak lebih mudah dikontrol. Coba perhatikan anak-anak di rumah. Bagaimana perilaku anak-anak. Apakah ada yang mengontrol perilaku mereka atau anak-anak itu bebas sesuka hatinya.

Dua..
Bahaya jika ada yang ketularan. Coba perhatikan pergaulan anak-anak. Dengan siapa anak bermain. Dimana mereka berada saat orang tuanya nggak ada. Sedang apa mereka. Benarkah mengerjakan tugas gurunya. Bahkan anak-anak juga bisa ketularan orang tuanya karena justru yang sering keluar rumah adalah ayah dan ibunya.

Tiga…
Anak-anak makin liar. Orang tua nggak ada. Saudara kerja. Tapi di tangannya pegang hape. Dari hape itu, ada yang tahu situs apa yang dibuka. Satu hari, satu minggu, satu bulan anak-anak pegang hape tanpa kendali. Liar sudah pikirannya. Liar pula perilakunya.

Empat…
Hilangnya nilai-nilai. Secanggih apapun teknologi takkan mungkin bisa menggantikan peran guru. Karena satu hal, yaitu nilai-nilai. Guru itu tak sekadar mengajar, tapi juga memberikan nilai-nilai untuk mencetak anak-anak agar memiliki perilaku yang baik. Justru teknologi sering merusak nilai-nilai itu jika tak dikendalikan.

Lima…
Makin tumpulnya otak anak. Otak nggak pernah diasah bakatnya. Nggak pernah dilatih potensinya. Gimana tidak tumpul kalau keseharian cuma pegang hape. Anak-anak itu bermain game online bersama teman-temannya. Bisa juga lihat film dewasa. Jangan dikira anak-anak itu belajar 24 jam. Nggak ya….,

Kutipan dari salah satu group WhatsApp tersebut membuat kita semua terinspirasi agar kita sama sama mencari solusi nya dengan penuh harapan agar wabah ini segera berlalu, agar anak didik kita bisa melanjutkan pendidikan dengan penuh kontrol demi masa depan generasi bangsa dan negara kesatuan republik Indonesia yang kita cintai ini,

Sumber : R2

Editor : Nur Azizah Lubis